Madrasah Aliyah

MA Al-Mujtama`

Pamekasan Madura

"Mahasantri di Era Society 5.0: Menjaga Tradisi, Mengasah Soft Skills, dan Berdaya Saing Global"

Essai yang ditulis oleh: Sri Fitri Haryati (Siswa Kelas XIB MAS Al-Mujtama’)

Mahasantri, sebutan bagi para mahasiswa yang berdiam diri di asrama dan mencari ilmu di perguruan tinggi dibawah naungan pondok pesantren. Sehingga mereka bukan hanya dituntut fokus pada pendidikan formal tapi juga sibuk dengan berbagai kegiatan seperti salat berjamaah, kajian kitab, sima’an sorogan, dan macam-macam aktivitas spiritual lainnya. Karena terisolasi di lingkungan pesantren yang acuh tidak acuh bahkan minim peduli akan teknologi, mungkinkah mahasantri dapat berdaya saing menghadapi era Society 5.0 kini?

            Society 5.0, konsep yang memudahkan kehidupan manusia tanpa menghilangkan peran manusia itu sendiri. Banyak pesantren memang mulai melirik segala hal tentang IT namun tetap disertai pembatasan yang ketat, sehingga membuat mahasantri tentu tidak leluasa mengakses teknologi sebagaimana luasnya perkembangan zaman. Belum lagi anggapan ketika kita dimanjakan kecerdasan buatan, internet, robotik maka kita keluar dari nilai-nilai kesederhanaan yang tercantum dalam ketentuan agama. Inilah yang lantas menjadi akar timbulnya keraguan bagi mereka yang sadar digital, apakah santri dapat berperan ditengah masyarakat dengan segala keminoritannya akan dimensi digitalisasi seperti layaknya mahasiswa diluaran sana?

            Sebagai figur yang harus mempertahankan identitas lokal namun berdaya saing global, mahasantri mengemban beban melestarikan nilai islam dan turun tangan dalam perkembangan zaman, padahal hanya dibekali dengan aspek-aspek syariat. Keterbatasan fasilitas yang tergantung pada penyediaan pihak pesantren tidak akan mencakup pesat perubahan teknologi. Gen Milenial, Gen Z, Gen Alpha yang seharusnya berperan sebagai ‘Penguasa Digital’ justru merasa tertinggal karena terkekang di kehidupan mondoknya.

            Jika ditinjau lebih jauh, minimnya IT Literacy bukanlah kendala yang mengusaikan segala kontribusi mahasantri menuju masa depan, sebab masih terdapat kompetensi-kompetensi yang ditunjang program pesantren, serta dapat diasah secara mandiri agar membantu seseorang meningkatkan daya saing dalam skala internasional.

  • Leadership
  • Era Society 5.0 mengharuskan mahasantri berjiwa pemimpin (leadership), supaya dapat tegas menghasilkan keputusan yang berdampak besar bagi sekitar, terutama diri sendiri dalam menghadapi efek negatif globalisasi. Butuh banteng kuat yang harus dibangun semenjak masih di pondok pesantren. Leadership bisa diasah lewat organisasi yang dapat diikuti.
  • Language Skills

Hilangnya batas-batas komunikasi lintas negara menuntut generasi masa kini menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional. Setidaknya untuk pengoperasian teknologi canggih yang berbasis bahasa asing sebelum berkomunikasi dengan masyarakat global. Banyak pondok pesantren mendukung peningkatan language skills para mahasantri ini, karena terdapat pondok-pondok yang terfokus sehari-harinya pada penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.

  • Writing Skills

Mahasantri perlu menuangkan aspirasinya melalui karya-karya bermoral positif dalam rangka mewujudkan ilmu yang bermanfaat dengan disalurkan pada orang lain. Apalagi ditengah negeri kita yang perlu meningkatkan minat literasinya, mahasantri dapat membuat karya menarik penuh makna dan inovasi penunjang kreativitas demi menumbuhkan semangat baca orang-orang.

  • Problem Solving serta Critical Thinking

Pemecahan masalah (problem solving), jelas diperlukan ditengah problematika zaman yang kian rumit beriringan berkembangnya masa. Banyak pribadi manusia yang depresi bahkan bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi masalah hidup. Problem solving mampu menguatkan mental serta mendukung upaya seseorang keluar dari situasi terpelik sekalipun. Disertai pemikiran kritis (critical thinking), mendorong mahasantri dalam segala keterbatasannya mencari solusi paling tepat beserta resiko bagi masalah yang terjadi. Terutama ketika bermasyarakat dilingkungan pesantren, bersama orang-orang dengan pemikiran yang tak selalu sejalan atau mengaji sorogan dan menyampaikan hasil pemikiran.

  • Kreativitas yang Tinggi

Kreativitas dapat ditingkatkan dengan beragam kegiatan karena mahasantri harus terus berinovasi menyamai mahasiswa diluar sana, yang berusaha mendapatkan penemuan berguna dalam berkontribusi mempermudah kehidupan manusia. Contoh paling remeh bisa dimulai dari membuat kolase diary, menghias lemari, mengkreasikan alat tulis, dekorasi asrama atau mengikuti ektrakulikuler serta seminar yang diadakan pihak pondok pesantren untuk meningkatkan kualitas diri.

Dengan demikian, mahasantri tetap didukung untuk berdaya saing dengan berbagai program pesantren, begitu juga melalui berbagai soft skills yang dikembangkan secara mandiri seperti leadership, language skills, writing skills, problem solving, critical thinking, juga kreativitas. Lagipula kekurangan IT Literacy bukan tanda berakhirnya peran mahasantri di masa kini. Tidak sepenuhnya pesantren menolak keberadaan digitalisasi. Buktinya, banyak pesantren bersifat modern serta turut meramaikan media sosial. Terdapat pula sebuah bekal bagi para mahasantri yang tidak mudah diraih oleh mahasiswa biasa, yakni ridha dan berkah Kiai, Sang Pilar Penjaga Negeri.

Tulisan Terbaru
Tulisan Populer
Tulisan Terbaca